BeasiswaKampus

CLS 2025 di UM, Mahasiswa AS Akui Tak Ingin Pulang

×

CLS 2025 di UM, Mahasiswa AS Akui Tak Ingin Pulang

Sebarkan artikel ini
CLS 2025 di UM, Mahasiswa AS Akui Tak Ingin Pulang
Penutupan program CLS UM. (beritajatim.com/Dani Alifian).

Mahasiswa Lamongan – Beasiswa bergengsi Critical Language Scholarship (CLS) ke-16 kembali digelar di Universitas Negeri Malang (UM). Program imersi penuh bahasa dan budaya Indonesia ini diikuti 20 mahasiswa terpilih dari berbagai universitas di Amerika Serikat.

Para peserta tiba di Indonesia pada 20 Juni 2025 dan memulai pembelajaran resmi pada 23 Juni 2025. Sesi kelas berlangsung hingga 13 Agustus 2025, sebelum mereka kembali ke AS pada 16 Agustus 2025. Selama hampir dua bulan, mereka mengikuti jadwal padat yang dirancang khusus untuk mempercepat kemampuan berbahasa.

Direktur UPT Pusat Studi Bahasa dan Budaya Indonesia (PSBBI) UM sekaligus Direktur Program CLS di Indonesia, Prof. Dr. Gatut Susanto, menjelaskan kunci keberhasilan program ini ada pada desain pembelajaran yang intensif serta disiplin tinggi. Salah satu aturannya, peserta dilarang menggunakan bahasa Inggris selama proses belajar.

Untuk memaksimalkan hasil, ke-20 mahasiswa dibagi dalam 4 level kemahiran yang terdiri dari 6 kelas, yaitu Pemula (2 kelas), Menengah Awal (1 kelas), Menengah (2 kelas), Menengah Akhir (1 kelas), dan Mahir (1 kelas). Tahun ini, setiap kelas diberi nama raja-raja dari kerajaan di Indonesia sebagai motivasi.

Program ini didukung 18 pengajar berpengalaman dan 40 mitra bahasa—dua mitra untuk setiap mahasiswa. Mahasiswa S1 dan S2 Pendidikan BIPA UM turut dilibatkan sebagai guru dan mitra bahasa, memberi mereka pengalaman praktik mengajar langsung. Selain itu, seluruh peserta tinggal bersama keluarga asuh untuk memperdalam pemahaman budaya dan kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Prof. Gatut mencontohkan kemajuan signifikan peserta. “Mina dan Erika, misalnya. Dua bulan lalu mereka sama sekali belum bisa berbicara Bahasa Indonesia, tetapi kini sudah mampu tampil dalam pementasan drama,” ujarnya.

Salah satu peserta, Lily Waskiewicz, lulusan Ilmu Politik Ohio University, mengaku kemampuan bahasanya meningkat dari skor 3–4 menjadi sekitar 7. “Untuk program ini, ratingnya 10 dari 10. Pak Gatut dan Pak Tom sangat lucu, pintar, dan sungguh ingin kami sukses. Saya tidak mau pulang,” tuturnya.

Sementara itu, mahasiswi Musik dan Komputer dari Vanderbilt University juga mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Malang.

“Orang di sini senang berteman dan nongkrong, berbeda dengan Amerika yang lebih individualis,” katanya. Ia juga jatuh cinta pada budaya kopi lokal. “Kopi di sini lebih kuat, favorit saya Kopi Tuku,” ujarnya.

Prof. Gatut berharap hubungan yang terjalin selama program ini tetap berlanjut. “Seperti saya dengan Lily dan Karissa, semoga mereka menjadi keluarga dan teman seumur hidup. Inilah jembatan persahabatan antara Amerika dan Indonesia,” pungkasnya.