Mahasiswa Lamongan – Suasana semarak menyelimuti Dusun Klanting, Desa Takeranklating, Kecamatan Tikung, Kabupaten Lamongan, saat ratusan warga memadati jalanan untuk mengikuti Festival Seni dan Budaya Sedekah Bumi.
Dalam balutan tradisi penuh makna, mereka membawa bakul berisi tumpeng dan aneka jajanan pasar sebagai wujud syukur atas rezeki yang telah diterima dari hasil bumi.
Tak hanya masyarakat, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi—akrab disapa Pak Yes—juga hadir dan turut mengikuti seluruh rangkaian acara.
Dimulai dengan arak-arakan, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama, pembagian gunungan, serta uang koin kepada masyarakat. Semua itu menjadi simbol rasa syukur sekaligus harapan akan keberkahan hasil panen ke depan.
“Semoga sedekah bumi ini menjadi bentuk rasa syukur panjenengan semua. Kalau kita bersyukur, maka nikmatnya akan ditambah. Yang terpenting, saya dan panjenengan bersama-sama membangun lingkungan yang membawa kebahagiaan bagi masyarakat,” ujar Pak Yes di hadapan warga.
Festival ini digelar bertepatan dengan masa tanam ketiga. Tradisi sedekah bumi diyakini menjadi momentum spiritual bagi para petani untuk memohon kelancaran dalam bertani dan keberlimpahan hasil panen.
Pak Yes juga menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Lamongan terus berupaya memberikan dukungan terbaik bagi sektor pertanian. Mulai dari perbaikan saluran irigasi, pengerukan waduk agar mampu menampung debit air lebih banyak, hingga pembangunan infrastruktur jalan demi mendukung distribusi hasil pertanian.
“Alhamdulillah, panen se-Kabupaten Lamongan kemarin bagus, baik dari hasil maupun harga. Pupuk juga lancar. Tadi saya lihat di Klanting, sudah mulai tanam ketiga. Dua kali panen sebelumnya bahkan melebihi target. Itu artinya masyarakat dan petani bahagia. Dan kami akan terus mendorong agar pertanian Lamongan semakin baik,” jelasnya, Rabu (30/07/2025).
Kepala Desa Takeranklating, Yasmu’in, menambahkan bahwa Festival Sedekah Bumi berlangsung selama lima hari penuh dengan berbagai kegiatan religius dan budaya.
Mulai dari istighosah, ziarah ke makam Mbah Sindu Joyo—yang diyakini sebagai pendiri sekaligus pelindung awal Dusun Klanting—hingga pengajian, tumpengan, dan pagelaran wayang kulit oleh Ki Dalang Wisnu Jati Pamungkas.
“Tradisi ini bukan hanya sarana syukur, tetapi juga menjadi ruang spiritual dan pelestarian budaya yang menyatukan seluruh elemen masyarakat. Semoga melalui acara seperti ini, nikmat yang kita terima akan terus ditambah oleh Allah, dari hari ini hingga hari akhir,” tutur Yasmu’in.











