Mahasiswa Lamongan – Kabar gembira datang bagi para petani di Lamongan yang mulai memasuki musim panen. Harga gabah di Lamongan saat ini menembus Rp7.600 hingga Rp7.800 per kilogram (kg), jauh di atas ketetapan pemerintah yang hanya Rp6.500 per kg.
Sekretaris Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Lamongan, Bakrudin, menyampaikan bahwa berdasarkan informasi dari petugas lapangan, harga gabah memang cukup tinggi. Namun, ia menekankan bahwa belum semua petani memasuki masa panen.
“Ada yang padinya baru berusia 5–10 hari, tetapi sebagian sudah berusia 70–80 hari,” jelasnya.
Diperkirakan, pada bulan ini akan ada 19 kecamatan yang mulai panen. Wilayah panen tersebar di daerah tengah dan selatan Lamongan, seperti Kalitengah, Turi, Glagah, dan Sekaran. Selain itu, kawasan Bengawan Jero juga sudah memasuki musim panen.
“Memang belum merata panennya, tetapi harga cukup tinggi,” imbuh Bakrudin.
Hingga akhir bulan, luas panen di Lamongan diperkirakan mencapai sekitar 143.286 hektare. Untuk memastikan hasil panen tetap melimpah, petugas pertanian terus melakukan pengecekan di lapangan.
Bakrudin pun mengimbau agar petani bisa menyusun pola tanam sesuai perhitungan petugas pertanian setempat, agar masa tanam dan panen dapat menyesuaikan kondisi cuaca serta meminimalisasi risiko serangan hama.
Lebih lanjut, Bakrudin mengingatkan petani untuk menghindari sistem pertanian berisiko tinggi, salah satunya penggunaan jaringan listrik di area persawahan yang berbahaya. Sebagai alternatif pengendalian hama, petani bisa menjaga burung hantu atau rodent yang lebih aman bagi lingkungan.
Selain itu, koordinasi dengan petugas pengairan juga terus dilakukan untuk memastikan ketersediaan air tetap aman, mengingat sebagian wilayah baru memulai masa tanam. Harapannya, kebutuhan air dapat terpenuhi dengan baik.
“Semoga hasil panen melimpah, karena beberapa petani yang sebelumnya hanya bisa dua kali tanam padi, sekarang bisa lebih,” pungkasnya.











