Kegiatan

IMM Lamongan Bahas Makna Kurban dari Sudut Agama, Filsafat, dan Budaya

×

IMM Lamongan Bahas Makna Kurban dari Sudut Agama, Filsafat, dan Budaya

Sebarkan artikel ini
IMM Lamongan Bahas Makna Kurban dari Sudut Agama, Filsafat, dan Budaya
Kajian IMM Lamongan membahas makna kurban. (PWMU.CO/Himma).

Mahasiswa Lamongan – Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Lamongan menyelenggarakan Kajian Keislaman dengan tema “Kurban dalam Perspektif Agama, Filsafat, dan Budaya” pada Jumat malam (06/06/2025) di Rumah Ikatan IMM Lamongan. Kegiatan ini diinisiasi oleh Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman PC IMM Lamongan.

Hadir sebagai narasumber utama, KH Kusen—yang akrab disapa Kyai Cepu—Wakil Ketua Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Acara juga dihadiri oleh Fatkhur, wakif tanah Rumah Ikatan IMM Lamongan, Ketua Umum PC IMM Lamongan Alexi Candra Putra Kasan Nova, serta para pengurus harian cabang dan perwakilan komisariat IMM se-Lamongan.

Dalam sambutannya, Alexi Candra menekankan pentingnya mahasiswa IMM untuk memperluas cakrawala pemikiran lintas disiplin dalam memahami ibadah kurban. Ia juga menyambut kehadiran Kyai Cepu sebagai momentum berharga untuk berdiskusi lebih dalam.

“Malam ini kita kedatangan tokoh penting dalam kebudayaan Muhammadiyah, Kyai Cepu. Kalau kesempatan ini tidak kita manfaatkan untuk berdialektika, maka kita sendiri yang akan merugi,” ujar Alexi.

Ia juga mengingatkan bahwa semangat pembaruan Muhammadiyah harus tetap berpijak pada nilai-nilai budaya. “Budaya adalah identitas bangsa. IMM harus berada di garda depan dalam menghidupkan kembali kesadaran budaya yang Islami,” lanjutnya.

Dalam sesi pemaparan, Kyai Cepu mengajak peserta untuk memahami kurban secara lebih luas—bukan hanya sebagai ritual menyembelih hewan, tetapi juga simbol ketaatan dan pengorbanan total kepada Allah. Menurutnya, jika hanya dipahami secara lahiriah tanpa dimensi ruhani, maka makna kurban menjadi hampa.

“Kurban adalah wujud ketaatan yang sejati. Ia tidak hanya ritual, tetapi juga spiritual. Bila tidak dilandasi kesadaran, maka ia bisa kehilangan makna,” tegasnya.

Kyai Cepu juga mengajak peserta membuka kembali ayat-ayat Al-Qur’an tentang kurban dan merenungkannya secara mendalam. Ia menekankan pentingnya tafsir yang kontekstual—yakni yang menyatu dengan realitas sosial dan spiritual kekinian.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa hampir semua agama memiliki ritual kurban sebagai simbol pengorbanan dan penyerahan diri. Ia pun mengangkat kisah Nabi Ibrahim yang rela mengorbankan Ismail sebagai pelajaran mendalam tentang cinta dan ketundukan pada Tuhan.

“Cinta kepada Allah harus melampaui cinta kepada siapa pun, bahkan kepada anak sendiri,” ucapnya penuh makna.

Sementara itu, Ketua Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman PC IMM Lamongan, Alfain Jalaluddin Ramadlan, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari misi IMM untuk menghidupkan kesadaran keislaman yang menyeluruh.

“Ini bukan sekadar rutinitas. Kajian ini adalah bagian dari jihad pemikiran IMM dalam membumikan nilai-nilai Islam progresif,” ungkap Alfain.

Acara berlangsung dengan penuh khidmat. Antusiasme peserta terlihat dalam sesi dialog dan tanya jawab yang menggambarkan keinginan kuat untuk mendalami makna kurban dari berbagai perspektif.