News

Kasus PMK Lamongan Melandai, 946 Sapi Berhasil Sembuh

×

Kasus PMK Lamongan Melandai, 946 Sapi Berhasil Sembuh

Sebarkan artikel ini
Kasus PMK Lamongan Melandai, 946 Sapi Berhasil Sembuh
Ilustrasi virus PMK yang menulari sapi. (Dok. forestdigest.com).

Mahasiswa Lamongan – Sebanyak 1.557 ekor sapi di Kabupaten Lamongan terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Dari jumlah tersebut, 946 ekor sapi berhasil disembuhkan. Sementara itu, 99 ekor lainnya mati, 89 ekor harus dipotong bersyarat, dan 423 ekor masih dalam tahap pemulihan.

Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lamongan, Shofia Nurhayati, mengungkapkan bahwa pihaknya terus berupaya menekan angka kasus PMK dengan berbagai langkah. Langkah tersebut termasuk vaksinasi massal dan penutupan pasar hewan di Lamongan sejak Januari 2025 lalu.

“Dari 1.557 ekor sapi yang terpapar, 946 berhasil disembuhkan, 99 ekor mati, 89 ekor dipotong bersyarat, dan 423 ekor masih dalam tahap pemulihan,” ujar Shofia dalam keterangannya, pada Rabu (12/02/2025).

Sejak awal tahun, Pemkab Lamongan menutup 15 pasar hewan untuk memutus mata rantai penyebaran PMK. Namun, dengan tren kasus yang mulai menurun, pihaknya berencana untuk membuka kembali pasar hewan yang sempat ditutup tersebut.

“Kami masih mempersiapkan pencabutan surat edaran (SE) penutupan pasar hewan. Jika semua sudah siap, pasar hewan akan segera dibuka kembali,” jelas Shofia.

Menjelang bulan Ramadan, Disnakeswan Lamongan terus mengintensifkan vaksinasi guna memastikan wabah PMK semakin terkendali.

“Syukur jika menjelang bulan suci Ramadan nanti, PMK bisa melandai dan terkendali. Untuk itu, vaksinasi terus kami gencarkan,” pungkasnya.

Dengan langkah-langkah yang telah diambil, Pemkab Lamongan optimis tren PMK dapat terus ditekan, sehingga sektor peternakan kembali pulih dan ekonomi peternak dapat kembali berjalan normal.

Sebagai informasi, PMK, dikenal juga sebagai Foot and Mouth Disease (FMD) atau Apthtae Epizooticae, merupakan penyakit pada hewan yang dapat menular kepada hewan lainnya. Penyakit ini bersifat akut dan disebabkan oleh virus RNA yang masuk dalam genus Apthovirus.