KampusKegiatan

Kerja Sama Unisda dan PW GP Ansor Jawa Timur dalam Acara Seminar Literasi

×

Kerja Sama Unisda dan PW GP Ansor Jawa Timur dalam Acara Seminar Literasi

Sebarkan artikel ini
Kerja sama Unisda dan PW GP Ansor Jawa Timur dalam Acara Seminar Literasi
Kerja sama Unisda dan PW GP Ansor Jawa Timur. (Humas/Unisda).

Mahasiswa Lamongan – Universitas Islam Darul ’Ulum (Unisda) Lamongan kembali menunjukkan perannya sebagai pusat pengembangan literasi dan intelektual dengan menjadi tuan rumah Seminar Literasi bertema “Santri, Literasi, dan AI” yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (PW GP) Ansor Jawa Timur pada Jumat (21/11/2025).

Agenda tersebut juga dirangkaikan dengan Pengukuhan Pengurus Ansor University Jawa Timur, sebuah langkah strategis yang menegaskan pentingnya perguruan tinggi sebagai mitra dalam proses kaderisasi dan peningkatan kapasitas intelektual organisasi kepemudaan.

Momentum akademik ini semakin kuat dengan ditandatanganinya Nota Kesepahaman (MoU) antara Unisda Lamongan dan PW GP Ansor Jawa Timur. Kerja sama tersebut menitikberatkan pada penguatan Tridarma Perguruan Tinggi, meliputi pendidikan, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat.

Pemateri utama, Ahmad Rifa’i Rif’an, menyoroti modal epistemik yang dimiliki komunitas santri dalam menghadapi perkembangan kecerdasan buatan. Menurutnya, tradisi membaca dan mengkaji teks secara mendalam yang sudah melekat di lingkungan pesantren merupakan bekal besar untuk berinteraksi dengan teknologi AI secara kritis.

“Santri sudah terbiasa dengan tradisi literasi yang kuat. Itu modal penting supaya tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi mampu bersikap kritis terhadap AI,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis yang terbentuk dari kultur pesantren menjadi penopang utama agar santri tetap adaptif sekaligus selektif dalam memanfaatkan teknologi.

Sementara itu, narasumber lain, H. D. Fardan Hamdani, menekankan pentingnya nilai etik pesantren dalam mengawal penggunaan teknologi modern. Ia mengingatkan bahwa AI tidak akan pernah mampu menggantikan nilai kemanusiaan.

“AI tidak bisa menggantikan nilai. Yang membedakan manusia dan mesin adalah kebijaksanaan. Santri harus menjaga nilai itu, sambil memanfaatkan AI sebagai alat memperluas manfaat pengetahuan,” tegasnya.

Fardan menambahkan, pengukuhan Ansor University dan kerja sama dengan Unisda bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan investasi jangka panjang untuk membangun kader yang matang secara intelektual tanpa meninggalkan kemilitan organisasi.

Kegiatan yang dihadiri kader Ansor, civitas akademika, dan komunitas literasi dari berbagai daerah tersebut juga dirangkaikan dengan Pelatihan Kader Lanjut (PKL) GP Ansor Jawa Timur sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas kader secara lebih menyeluruh.

Kerja sama antara Unisda dan PW GP Ansor Jawa Timur diharapkan dapat melahirkan riset-riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat serta memperluas peran pengabdian kampus hingga ke akar rumput.

Kolaborasi antara dunia akademik, nilai-nilai tradisi pesantren, dan perkembangan teknologi digital diyakini dapat menjadi landasan penting dalam membentuk generasi santri yang adaptif, berdaya saing, namun tetap berpijak pada nilai keilmuan yang kokoh.