Prestasi

Mahasiswa ITB Sabet Dua Penghargaan Bergengsi di Kompetisi IAAC 2025

×

Mahasiswa ITB Sabet Dua Penghargaan Bergengsi di Kompetisi IAAC 2025

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa ITB Sabet Dua Penghargaan Bergengsi di Kompetisi IAAC 2025
Yafi Amri, mahasiswa berprestasi ITB. (ITB/Yafi Amri).

Mahasiswa Lamongan – Yafi Amri, mahasiswa Program Studi Meteorologi di Institut Teknologi Bandung (ITB), berhasil menorehkan prestasi gemilang di tingkat internasional. Ia meraih penghargaan bergengsi dalam ajang International Astronomy and Astrophysics Competition (IAAC) 2025.

International Astronomy and Astrophysics Competition (IAAC) sendiri adalah sebuah kompetisi sains global yang mempertemukan pelajar dari berbagai negara untuk menguji kemampuan mereka di bidang astronomi dan astrofisika.

Sejak di bangku sekolah, Yafi sudah menunjukkan ketertarikan mendalam terhadap dunia sains, terutama astronomi. Pengalamannya mengikuti Olimpiade Astronomi sejak SMA menjadi bekal berharga yang memantapkannya untuk ikut serta dalam IAAC 2025.

Kompetisi tersebut dimulai pada Juli 2025, saat Yafi mendaftar dan mengerjakan lima soal pada babak kualifikasi. Berhasil melaju ke tahap selanjutnya, ia mengikuti babak pre-final pada Agustus 2025. Di tahap ini, peserta dihadapkan pada enam soal dengan tingkat kesulitan beragam—mulai dari dasar, lanjutan, hingga riset.

Tantangan semakin berat ketika memasuki babak final pada September 2025, di mana setiap peserta harus menjawab 20 soal dengan waktu maksimal satu menit per soal. Menurut Yafi, kesulitan terbesar yang ia hadapi adalah manajemen waktu, terutama saat pre-final yang menuntut pemahaman mendalam serta kemampuan membaca paper ilmiah dalam waktu hanya tiga hari.

Meski tengah disibukkan dengan tugas akhir dan persiapan sidang, Yafi tetap berkomitmen untuk mengatur waktu dan menyelesaikan setiap soal dengan sebaik mungkin. Usahanya pun tidak sia-sia. Mahasiswa ITB tersebut sukses meraih Gold Honour International Award (3rd Prize Senior) dan National Award (Nationwide Highest Score in The Final Round).

Ia pun tercatat sebagai salah satu peserta terbaik di dunia—termasuk dalam 1% teratas dari sekitar 12.300 peserta yang mengikuti kompetisi tahun ini.

Yafi mengungkapkan bahwa pengalamannya mengambil program minor Astronomi di ITB, meski berasal dari jurusan Meteorologi, sangat membantu dalam memperluas wawasan dan memperdalam pemahaman keilmuan. Ia juga menuturkan, dukungan dari para dosen yang dedikatif serta doa dari keluarga, terutama ibunya.

“Jangan pernah ragu dengan diri sendiri untuk mengejar apa yang kalian impikan dengan sepenuh hati. Akan ada momen mengharukan ketika impian itu akhirnya tercapai, dan kalian menyadari bahwa ternyata kalian mampu sampai sejauh ini,” ujar Yafi dengan penuh semangat.