News

Podcast Kataloka: Apakah Puisi Masih Butuh Hati di Era AI?

×

Podcast Kataloka: Apakah Puisi Masih Butuh Hati di Era AI?

Sebarkan artikel ini
Podcast Kataloka: Apakah Puisi Masih Butuh Hati di Era AI?
Podcast Kataloka dari Detak Pustaka bersama Arby Rahmat. (YouTube/tangkapan layar/Detak Pustaka).

Mahasiswa Lamongan – Podcast Kataloka dari Detak Pustaka kembali hadir dengan episode kelima. Dalam episode kali ini, Detak Pustaka mengangkat tema “Menulis di Era AI: Apakah Puisi Masih Butuh Hati?” dan menggandeng Arby Rahmat, penulis buku Sarihati sebagai pembicara.

Podcast Kataloka dimulai dengan cerita Arby terkait ketertarikannya dalam bidang kepenulisan yang muncul sejak duduk di bangku sekolah. Ia mengaku, telah menyukai pelajaran mengarang sejak kecil dan mulai menulis puisi saat memasuki masa SMA.

Ia juga bercerita tentang inspirasi menulis buku Sarihati yang datang saat perjalanan pulang dari kantor menggunakan bus. Dalam perjalanan itu, Arby bertemu dengan seorang pengamen yang tidak menggunakan alat musik, melainkan membacakan puisi.

“Setelah buku Sarihati terbit, saya berniat memberikan buku ini pada bapak tersebut,” ungkapnya penuh semangat.

Dalam podcast berdurasi 37 menit tersebut, Arby juga berbagi pandangan soal kehadiran AI di dunia kepenulisan. Ia mengakui sempat mencoba menggunakan AI saat menulis Sarihati, dan merasa kagum pada kemampuan teknologi tersebut. Namun, menurutnya, AI tetaplah ciptaan manusia—dan yang membuatnya hebat bukanlah teknologinya, melainkan manusianya.

“AI ini kan bikinan manusia. Jadi sebenarnya, yang hebat itu tetap manusianya,” jelasnya.

Meski menilai AI bisa memberi efisiensi, Arby juga menekankan pentingnya keaslian dalam karya, terutama dalam ranah akademik. Ia mengingatkan bahwa penggunaan AI dalam karya akademik harus dilakukan secara bijak agar tidak merusak kemurnian karya tersebut. AI sebaiknya digunakan sebagai alat bantu inspirasi, bukan sebagai pengganti proses kreatif itu sendiri.

“Kalau semua diambil dari AI, nanti kita malah nggak kenal dengan karya kita sendiri,” ujarnya.

Menurut Arby, puisi buatan AI dan puisi karya manusia terkadang sulit dibedakan dari segi bahasa. Keduanya bisa sama-sama lugas, puitis, dan bermakna. Namun, ada satu hal yang tetap menjadi pembeda utama—yaitu emosi dan kepekaan rasa. Di sinilah peran manusia sebagai penulis tidak tergantikan.

Ia juga menekankan pentingnya menulis dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Dalam Sarihati, misalnya, Arby tidak hanya menulis puisi-puisi personal, tetapi juga menyisipkan tema-tema sosial agar lebih relevan bagi pembaca.

Kehadiran AI, menurutnya, justru bisa menjadi peluang bagi penulis untuk semakin jujur dalam mengekspresikan diri. Namun ia mengingatkan, jangan sampai teknologi membuat kita kehilangan jati diri dalam berkarya.

“Manfaatkan AI sebijak mungkin, agar kita bisa memahami isi dari karya kita sendiri,” tutur Arby.

Di akhir sesi podcast, Arby menyampaikan pesan optimis untuk para penulis di era digital ini. Meskipun teknologi terus berkembang, puisi tetap akan memiliki tempat tersendiri di hati pembaca. Karya yang dibuat dengan jujur dan sepenuh hati pasti akan menemukan pasarnya.

“Harus tetap optimis dengan apa yang kita buat. Kalau tidak, nanti karya akan hilang. Padahal setiap karya punya pembacanya masing-masing,” pungkasnya.