Mahasiswa Lamongan – Perayaan Hari Raya Kuningan digelar secara sederhana oleh umat Hindu di Desa Balun, Kecamatan Turi, Lamongan. Hari suci yang datang setiap 210 hari ini dilaksanakan tepat 10 hari setelah Hari Raya Galungan sebagai momen untuk menghormati sekaligus mengiringi kepulangan para leluhur ke alamnya.
Ratusan umat Hindu memadati Pura Swetta Maha Suci pada Sabtu (29/11/2025) untuk mengikuti persembahyangan bersama. Berdasarkan kepercayaan Hindu, Hari Raya Kuningan menjadi waktu ketika para dewa, leluhur, dan petari kembali ke kayangan setelah 10 hari berada bersama umat selama rangkaian Galungan.
“Kegiatannya kita sembahyang bersama. Kita memohon kepada para dewa, para leluhur,” ujar Mangku Tadi, Pemangku Umat Hindu Desa Balun.
Dalam prosesi persembahyangan, umat melakukan puja menggunakan pebanten berwarna kuning. Warna kuning dipilih karena melambangkan kemakmuran serta menjadi simbol permohonan keselamatan.
“Kami mengadakan persembahyangan bersama, melakukan puja dengan pebanten yang isinya ada kuningnya, karena kuning itu merupakan lambang kemakmuran,” lanjut Mangku Tadi.
Peserta upacara didominasi umat Hindu yang tinggal di Jawa, ditambah beberapa warga Bali yang sedang berdinas atau bekerja di Lamongan. “Yang mengikuti di sini kebanyakan umat Hindu di Jawa. Mungkin nanti ada satu dua orang dari Bali yang sedang berdinas di Lamongan, biasanya mereka juga ikut sembahyang di pura ini,” jelasnya.
Harapan terbesar umat Hindu Desa Balun dalam Hari Raya Kuningan ini adalah memperoleh keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka berharap selalu diberikan kesehatan, kelancaran rezeki, serta mampu menjalankan Dharma dalam keseharian.
“Harapannya semoga umat Hindu selalu diberikan anugerah, kesehatan, banyak rezeki, dan bisa menjalankan Dharma setiap hari. Ini penting, karena Dharma adalah bekal kita nanti menghadap kepada Tuhan Sanghyang Widhi,” tutup Mangku Tadi.











